JAPAN

Rekomendasi Tempat Wisata Kyoto bagi Pemula

Saya check out dari hostel Wasabi, Osaka dan bersiap menuju Shin Osaka Station, salah satu stasiun tempat kereta cepat Shinkansen biasa mangkal. Iya, salah satu cara untuk bisa mencoba merasakan sensasi kereta cepat Jepang itu dengan harga murah adalah dengan menggunakan rute Osaka-Kyoto, cukup dengan harga 1.400-an Yen saja, tiket unreserved seat sudah di tangan. unreserved seat adalah tiket dengan nomor kursi yang tidak ditentukan dan hanya tersedia di gerbong 1-3. Kita bebas duduk di kursi kosong yang mana saja, selama itu di gerbong 1-3. Tapi tidak menutup kemungkinan, seluruh kursi bisa terisi penuh, dan imbasnya, kita harus berdiri sepanjang perjalanan.

Vending Machine
Shinkansen
Interior Shinkansen

Perjalanan kereta Shinkansen dari Kyoto ke Osaka hanya memakan waktu 13 menit saja. Singkat sekali pemirsah. Tidak terasa, saya akhirnya berada kota Kyoto, prefektur kedua dalam rangkaian perjalanan saya di Jepang. Rencananya saya akan menghabiskan waktu 3 hari 3 malam disini, karena dalam itinerary saya, malam hari ketiga, saya akan beralih ke kota Tokyo.

Tiba di stasiun Kyoto, saya langsung mencari tourist information centre, untuk membeli Kyoto 2 Days Pass seharga 750 Yen. Dengan kartu sakti tersebut, saya bisa naik bus di Kyoto sepuasnya selama 2 hari, mulai hari ini sampai besok. Setelah mendapatkan kartu sakti untuk menumpangi bus kota Kyoto, mendapatkan peta kota Tokyo, tujuan saya selanjutnya adalah Ginkakuji Hostel, tempat menginap saya selama di Kyoto.

Saya menggunakan bus dengan kode 101 berwarna pink, melewati beberapa tempat wisata popular di Kyoto, seperti Kiyomizudera Temple, Gion, Kyoto National Museum, dan beberapa tempat lainnya. Lama perjalanan lumayan menguras banyak waktu, laju bus yang cukup lambat, ditambah lagi banyak halte yang menjadi tempat persinggahan, dimana bus mengambil dan menurunkan penumpang.

Suasana kota Kyoto agak berbeda dengan Osaka. Osaka yang sudah sangat urban, beda dengan Kyoto yang nuansa heritage-nya masih lumayan kental. Terdapat banyak sekali kuil Budha maupun Shinto yang tersebar di penjuru kota. Kyoto seperti Jogja-nya Jepang. Dan saya jatuh cinta. Kuil-kuil di Kyoto sangat terkenal dengan ciri khas mereka masing-masing.

Saya turun di halte Ginkakuji-michi, tidak jauh dari kuil Ginkakuji. Salah satu kuil yang wajib dikunjungi di Jepang. Namun kali ini saya ingin check in dulu di Hostel. Hostel Ginkakuji terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk, yang tenang. Saya langsung teringat dengan anime Doraemon, Hostelnya agak mirip rumah Nobita, hanya terdiri dari dua lantai. Suasananya nyaman dan tenang. Kamar saya kali ini tidak seperti kapsul yang setiap ranjang memiliki tirai/penghalang yang memungkinkan ruang pribadi. Kali ini kamar saya seperti asrama pesantren, dengan 2 ranjang bertingkat didalam kamar, tanpa ada tirai/penghalang di setiap ranjang.

Saya istirahat sebentar, sholat dhuhur dijamak ashar, dan bersiap-siap menuju destinasi pertama saya, Kuil Fushimi.

Kuil Fushimi Inari

Kuil Fushimi Inari

Dari Hostel saya kembali ke Kyoto St. dan membeli tiket kereta menuju stasiun Inari. Tidak jauh dari stasiun Inari, gerbang besar kuil Fushimi Inari yang besar telah nampak. Dari situ kita telah masuk ke dalam kawasan kuil yang cukup luas. Salah satu yang menjadi daya tarik di Kuil ini adalah ribuan atau mungkin puluhan ribu Tori atau gerbang kecil yang berjajar membentuk terowongan. Pokoknya wajib foto kalau kesini mah.

Tori di Fushimi Inari

Kuil Fushimi Inari merupakan Kuil Shinto yang memuliakan Dewa Inari, yang dipercaya sebagai dewa Pertanian, sehingga kuil ini dipercaya membawa berkah bagi panen palawija, kesuksesan dalam perdagangan dan keselamatan transportasi.

Saya langsung menuju ke deretan Tori untuk berswafoto. Diawali dengan tori berukuran besar, lalu tori yang berukuran sedang. Sangat sulit untuk mendapatkan foto yang sesuai dengan keinginan karena wisatawan yang datang ke Kuil ini cukup banyak. Salah satu solusinya adalah berjalan lebih jauh ke Tori yang lebih tinggi. Alasannya, banyak wisatawan yang malas jalan lebih jauh, apalagi mendaki lebih tinggi. Oh iya, kenapa mendaki ? karena kuil ini terletak di kaki Gunung Inari, dan tanah kuil ini mencakup bagian gunung yang tingginya 233 meter.

Salah satu bangunan di Komplek Kuil Fushimi Inari

Kebetulan saat saya berkunjung sedang diadakan syuting, entah syuting iklan, film atau dorama, jalan masuk ke Tori yang berukuran sedang kadang di tutup. Saya memanfaatkan kesempatan untuk mengambil gambar diri, dan objek tori tanpa gangguan kerumunan orang yang lalu lalang.

Gion

Gion

Senja menjelang, saya memutuskan untuk beralih ke tempat selanjutnya, Gion. Disana saya mencari Geisha, karena salah satu waktu yang tepat untuk melihat mereka adalah sore hari. Tempat terfavorit di Gion adalah Hanamikoji Street. Ada banyak Ochaya atau kedai the dengan arsitektur klasik Jepang yang berdiri di sepanjang Jalan ini,  Kalau beruntung, kita dapat menemukan Geisha berjalan anggun di jalan ini. Sayangnya, hingga petang berada disana saya tidak menemukan Geisha. Selain itu ada Gion Corner, tempat pertunjukkan seni dimana para Geisha maupun Maiko memamerkan keahlian mereka dalam bernyanyi dan menari. Harga tiket Gion Corner sekitar 1800-an Yen sampai 2000 yen. Sayangnya, saya tidak mencobanya, berat di kantong.

Green Tea Jepang
Hanamikoji
Jalan Hanamikoji

Saya memutuskan untuk mencari makan, dan mencoba Green Tea asli Jepang, yang ternyata pahit, belum habis, Green Tea-nya saya buang (lol). Waktu baru menunjukkan pukul 19.30, dan Kyoto sudah mulai agak sepi pemirsah. Saya yang lelah (dan mulai takut) ini memutuskan untuk kembali ke Hostel.

Kuil Kiyomizudera

Kuil Kiyomizudera

Hari kedua di Kyoto, saya memutuskan mengunjungi kuil Kiyomizudera. Keputusan ini bisa dibilang spontan, karena sebelumnya saya tidak merencanakan ke kuil ini. Hanya karena jalan masuk ke kuil yang menjadi salah satu tempat persinggahan bus, dan jalan menuju kuil yang tidak terlalu jauh, saya memutuskan mengunjungi kuil ini.

Kuil Kiyomizudera

Keputusan ke kuil ini ternyata tidaklah salah. Salah satu kuil terindah yang ada di Kyoto. Kuil Buddha ini memiliki panorama yang indah karena berada di ketinggian, sehingga pemandangan kota Kyoto dapat terlihat dari sini. Fakta menarik lainnya, Kuil ini ternyata salah satu dari warisan dunia UNESCO. Saya membayangkan mengunjungi kuil ini saat musim gugur, pasti sangat indah.

Arashiyama Bamboo Groves

Hutan Bambu Arashiyama

Selanjutnya, saya mengunjungi salah satu objek wisata populer yang agak jauh dari pusat kota Kyoto. Sebuah destinasi yang terkenal karena panorama hutan bambunya yang ikonik. Setiap orang yang melihat pasti taulah kalau itu di Kyoto. Apalagi kalau bukan Arashiyama Bamboo Groves/Bamboo Forest. Dari Stasiun Kyoto, saya menuju Arashiyama dengan kereta JR Line menuju stasiun Saga Arashiyama dengan tiket seharga 240 Yen. Dari stasiun saya berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,2 kilo meter, barulah akhirnya saya sampai di hutan Bambu yang terkenal itu.

Jinrikisha atau Ricksaw

Selain berjalan kaki, salah satu opsi menarik menuju hutan Bambu Arashiyama adalah menggunakan Jinrikisha atau Ricksaw. Becak tradisional Jepang yang dioprasionalkan dengan cara ditarik. Tapi jangan salah, biaya becak tradisional Jepang yang satu ini cukup mahal, mengingat penggunaan becak ini masih sangat manual, sehingga sangat menguras tenaga.

Kuil To-Ji

Salah satu bangunan utama Kuil To-Ji
5 Story Pagoda di Kuil Toji

Kuil To-Ji terdapat 5-Story Pagoda (Pagoda 5 Cerita) yang paling simbolis di Kyoto, yang dibangun oleh Shogun Tokugawa Ieyasu pada tahun 1644. Selain Pagoda yang menjadi tempat menarik di Kuil ini, ada beberapa bangunan yang berisi ruang utama, patung kobo daishi, yang terdaftar sebagai harta nasional. Ohiya, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh para wisatawan adalah larangan mengambil gambar di dalam kuil. Bukan hanya di Kuil To-ji, tetapi kebanyakan kuil di Jepang menerapkan aturan yang sama.

Menara Kyoto

Menara Kyoto dari Kyoto st.

Last, but not the least, Kyoto Tower atau Menara Kyoto. Tempat menarik yang paling pertama saya jumpai setelah sampai di Kyoto. Letaknya persis di depan stasiun Kyoto, menara setinggi 131 m (termasuk gedung menara sebagai alas) ini dapat dinikmati dari balkon stasiun Kyoto. Menara ini akan terlihat lebih indah saat malam hari. Ohiya, lebih indah melihat menara ini sih, daripada pemandangan dari menara, tapi belum sempat melihat pemandangan dari menara Kyoto -_-

Menara Kyoto

 

Itulah beberapa tempat yang sempat saya kunjungi selama berada di Kyoto, tidak banyak, karena cuaca di Jepang saat itu panas, hawanya bikin malas ngeksplor lebih banyak, tas yang dibawa juga bikin cepat capek. Pertanyaannya kenapa gak dititipin di loker kenapa gak beli payung ? malas bayar. Sekian

Iklan

9 comments on “Rekomendasi Tempat Wisata Kyoto bagi Pemula

  1. rinci sekali boskuhh, bisa jdi referensi buat sy yg msh newbie dan blom pernah ke nehri sakura ini hahaha. mantap djiwa

    Disukai oleh 1 orang

  2. Kecuali kuil To-Ji, semua daftar di atas pengen gue kunjungi kalo ke Kyoto. Pengen cobain becak Jepang juga. Di semua artikel blog yang gue baca, sopirnya muda-muda dan gagah gitu hahaha

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: