D.I YOGYAKARTA - INDONESIA

Antara Prambanan dan Ratu Boko

       Saya dan Ammar bergegas, memacu motor menyusuri jalan Yogyakarta menuju perbatasan provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Siang ini saya mengunjungi Candi Prambanan, komplek candi Hindu terbesar di Indonesia. Letaknya berada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dan sebagian wilayah dari komplek candi berada di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Perjalanan menuju candi terasa singkat. Saya dan Ammar membeli tiket seharga Rp. 50.000,- . Harga tersebut sudah termasuk tiket mengeksplor komplek keraton Ratu Boko.

            Candi Prambanan, terdengar sudah sangat tersohor. Namanya sudah sangat dielu-elukan sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi di Yogyakarta. Pesonanya seakan tak pernah surut, hari itu turis asing membanjiri komplek Candi. Sebagian orang Indonesia mungkin sudah bosan, bahkan mengaggap tempat ini sudah biasa, sehingga selalu mencari spot baru, agar tetap dianggap kekinian. Bagi saya, Prambanan masih menyisakan rasa penasaran yang tak berkesudahan. 12 Tahun lalu, saya dan keluarga hanya lewat seakan tak ada rasa untuk singgah sama sekali. Saya kecewa, karena setelahnya tak ada kesempatan berkunjung kesana lagi. Maklum, kami hanya lewat karena kami sedang dalam perjalanan darat dari Surabaya ke Yogyakarta, dan saat itu sudah tengah malam.

            Saya dan Ammar berjalan menyusuri komplek candi yang sangat luas. Sekitar beberapa meter barulah kami melihat candi-candi yang berada dalam komplek candi Prambanan. Memang, setiap bangunan candi yang ada dalam komplek ini memiliki nama-nama tersendiri. Tidak semuanya bernama Prambanan. Awalnya saya pikir seperti itu. Semuanya Prambanan. Ternyata, Prambanan itu merupakan nama kecamatan tempat kompleks candi ini berada.

         Candi Prambanan merupakan nama yang tercantum dalam daftar warisan dunia UNESCO, selain itu komplek candi ini juga dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Kamu tahukan Legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso ?, jika belum tahu berarti kamu kurang baca dongeng – dongeng nusantara sewaktu kamu kecil dulu. Yang jelas kali ini saya tidak akan menceritakan kisah itu.

            Kompleks candi ini juga memiliki nama lain, yaitu Siwagrha (Bahasa sansekerta yang bermakna rumah Siwa). Penamaan rumah Siwa, karena di bangunan Candi utama yang terletak di tengah itu bersemayam arca dewa Siwa setinggi tiga meter. Keberadaan dewa Siwa ini mengindikasikan dewa Siwa sebagai dewa pemusnah lebih diutamakan, padahal Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, atau tiga dewa utama Hindu yakni Wishnu, Brahma dan Siwa.

            Menurut prasasti Siwaghra, Candi Prambanan pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Kompleks Candi ini secara berkala terus disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram, seperti raja Daksa dan Toludong. Candi Prambanan, dalam sejarah kerajaan Mataram juga sempat ditelantarkan akibat berpindahnya ibukota kerajaan ke Jawa Timur. seiring berjalannya waktu dan melewati banyak sekali fase, saat ini kompleks candi Prambanan termasuk dalam situs warisan dunia UNESCO, pada tahun 1991.

            Saya berjalan, memasuki setiap bangunan candi, memerhatikan dengan saksama setiap relief yang terukir di candi. Jujur, saya tidak mengerti sama sekali setiap cerita yang terkandung di dalamnya. Pastilah sangat menarik, jika mampu membaca setiap kisah yang terukir di setiap Candi. Seperti yang sempat saya baca di beberapa sumber, relief tersebut menceritakan kisah Ramayana dan Krishnayana, Lokapala, Brahmana dan Dewata dan masih banyak lagi.

            Di bagian belakang bangunan-bangunan candi yang masih berdiri gagah, tersimpan reruntuhan candi yang menjadi korban gempa beberapa tahun silam. Sayang sekali, kini mereka tinggal kenangan,

Saya dan Ammar beralih ke Keraton Ratu Boko.

Letak situs purbakala ini sekitar 3 km dari kompleks Candi prambanan, serta berada di ketinggian 196 mdpl. Keraton Ratu Boko merupakan situs yang menampilkan sisa dinding benteng dan parit kering. Yang masih utuh hanyalah gerbang masuknya saja. Hal inilah yang membedakan keraton Ratu Boko dengan situs bersejarah lainnya di Pulau Jawa yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, Ratu Boko hanyalah merupakan kompleks Profan dengan gerbang, pendopo, tempat tinggal, kolam permandian, hingga pagar pelindung.

Saya dan Ammar sore itu berjalan santai. Menikmati Senja, lebih banyak duduk santai.

Letaknya di atas bukit membuat pemandangan di Keraton Ratu Boko menakjubkan. Udaranya sejuk, dan jika dahulu keraton Ratu Boko adalah sebuah benteng, letaknya sulit diserang lawan.

Nama Ratu Boko berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Boko berarti Raja Bangau. Ia merupakan ayah dari Roro Jonggrang. Konon tempat ini juga dikaitkan dengan legenda Roro Jonggrang. Menurut prasasti Siwaghra, Ratu Boko disebut sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus batu oleh Balaputra.

Singkat cerita, Komplek Keraton Ratu Boko terdapat bekas Gapura, ruang paseban, Kolam, tempat kremasi, pendopo. Pringgitan, keputren, dan dua ceruk gua untuk bermeditasi.

Menjelang Magrib, kami kembali ke kota. Bersiap untuk dunia Malam Jogja nan gemerlap.

11 comments on “Antara Prambanan dan Ratu Boko

  1. Bukannya ada jazz fes hari ini kah?

    Suka

  2. Meskipun harga tiket masuknya bagi saya cukup mahal untuk ukuran wisatawan domestik, Prambanan bagi saya tidak akan habis untuk ditelusuri. Selalu ada yang baru, sesuatu yang akhirnya membuat saya balik lagi dan balik lagi dalam setiap kunjungan ke dataran Kewu yang sangat subur itu. Tapi tak apalah, sepanjang membuat bahagia, hehe. Ini juga rencananya mau ke sana lagi bulan depan, mencari tulisan-tulisan dengan cat merah, hehe.

    Disukai oleh 1 orang

    • Awalnya saya pub sebenarnya kaget waktu melihat harga tiketnya yg berbeda dengab tmpt wisata lain di jogja yg saya kunjungi, keraton dan vredeburg misalnya yg hanya berada di kisaran Rp. 2000 – 5000. Tapi menurut saya tak papalah, dengan apa yg disajikan, saya rasa worth the price hahaha.

      Sayangnya perjalanan kesana sudah lama, hmpir setahun. Tapi baru diposting di blog, huhuhu

      Suka

      • Iya… anggp saja bisa ke empat candi dan satu museum dalam satu harga. Kalau sudah begitu, rasanya sepadan, wkwk.
        Nggak apa-apa… saya pun banyak perjalanan yang sudah bertahun-tahun belum diposting, wkwk…

        Disukai oleh 1 orang

  3. Waduh mahal juga ya? Jujur saya aja belum pernah masuk. Sekedar lewat sih sering. Tapi lebih memilih mengunjungi candi2 di sekitarnya yg ga terlalu mahal😀

    Disukai oleh 1 orang

  4. Hendi Setiyanto

    mahal juga memang untuk ukuran wisatawan lokal

    Suka

  5. Tahun 2005 aku ke Yogya bareng keluarga, bukannya ke sini, eh malah ke pasar nyari oleh-oleh *aku pundung. Pas film The Philosophers syuting di sini, oalaaah aku geram, kenapa gak ke sini soalnya cakep banget huhuhuhu *walaupun di film candinya kena bencana. 😀

    Disukai oleh 1 orang

    • Berarti sama dong om… hahha, aku cuma numpang lewat waktu ke jogja. Gak sempat singgah, soalnya udah tengah malam. Kalau keraton ratu boko aku tahu dari film AADC 2, dari situ langsung rindu dan mupeng ke Jogja.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: