D.I YOGYAKARTA - INDONESIA

Rute berjalan kaki Jogja : Lempuyangan sampai Keraton Jogja

      Post sebelumnya yang berjudul Nostalgia Jogja, saya telah bercerita tentang tempat wisata di Jogja yang saya kunjungi 12 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2004 silam. Dari cerita tersebut saya berjalan kaki menyusuri jalan jogja dari stasiun Lempuyangan hingga keraton Jogja. Meski tidak seluruhnya saya habiskan berjalan kaki, rute tersebut termasuk rute terbaik untuk menikmati tempat-tempat wisata Jogja, karena sepanjang perjalanan ada banyak spot-spot menarik yang dilalui. Penasaran apa Saja ? Check this out

Start : Stasiun Lempuyangan

Saya tiba di stasiun Lempuyangan pagi sekali, Sekitar pukul 06.00 pagi. Waktu yang tepat untuk berolahraga. Saya istirahat sejenak sambil mengisi daya gawai saya. Setelah terisi hampir 100 persen, saya memutuskan meninggalkan stasiun menuju tempat pertama, Jalan Malioboro. Oh ya, selain Stasiun Lempuyangan, di Yogyakarta juga ada Stasiun Tugu Jogja, tepatnya persis berdekatan dengan Tugu Pal Putih Jogja yang ikonik itu. Stasiun Lempuyangan merupakan stasiun pemberhentian kereta ekonomi, sedangkan stasiun tugu untuk kereta eksekutif dan Bisnis. Selain Rute dari Lempuyangan, sebenarnya rute dari stasiun tugu tak kalah menarik untuk walking tour, karena jaraknya sangat dekat dari tugu Jogja. Jadi sesuaikan saja, kamu turun di stasiun mana.

Jalan Malioboro

Perhentian pertama, Jalan Malioboro,  jalan di Jogja yang sudah sangat terkenal. Jalan Malioboro merupakan salah satu dari 3 Jalan di Jogja yang membentang dari tugu Jogja. Nah kebetulan, Jalan ini merupakan poros garis imajiner tugu Jogja. Yang artinya cukup jalan terus saja, sampai dah di keraton Jogja.  Hal yang menarik untuk dilakukan dilakukan di Jalan Malioboro adalah berbelanja, karena tempat ini sangat terkenal pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari.

Jalan Malioboro
Jalan Malioboro

Benteng Vredeburg

            Setelah berbelanja di Jalan Malioboro, berjalanlah ke arah keraton Jogja. Tak jauh dari keramaian para pedagang kaki lima, di ujung jalan Malioboro, ada sebuah Benteng peninggalan Belanda yang masih terawat hingga kini. Saat ini Benteng Vredeburg berfungsi sebagai Museum, yang memamerkan berbagai diorama mengenai sejarah Indonesia. mirip seperti Museum Tugu Monas. Cukup membayar Rp. 4000,- kita bisa mengamati berbagai kejadian yang terjadi di masa lalu dalam bentuk diorama. (Selengkapnya tentang Vredeburg : Coming Soon)

Benteng Vredeburg

Monumen Serangan Umum 1 Maret

            Tak Jauh dari Benteng Vredeburg, ada monument serangan umum 1 Maret. Letaknya tepat di depan kantor Pos besar Yogyakarta. Monumen ini dibangun untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949. Monumen Serangan Umum 1 Maret merupakan public space yang biasa dipakai untuk menyelenggarakan kesenian atau hiburan. Sayangnya, apabila tidak ada acara, tempat ini tertutup untuk umum. Namun, kita masih bisa melihat monument ini dari luar pagar.

Monumen Serangan Umum 1 Maret

Titik Nol Kilometer Jogja

            Jalan sejengkal, kita akhirnya sampai di Titik Nol Kilometer Jogja. Titik Nol Kilometer Jogja merupakan tempat dimulainya segala kisah tentang Jogja. Di Persimpangan ini kita bisa melihat Jogja secara utuh. Titik Nol Kilometer ini sejatinya adalah sebuah perempatan, namun dapat membawa kita ke masa lalu. Selain Benteng Vredeburg yang turut menghiasi tempat ini, masih banyak bangunan tua lainnya yang bakal membawa kita ke Yogyakarta di masa lalu. Ada gedung Bank BNI, Bank Indonesia, dan Gedung Kantor Pos besar.  Gemerlap cahaya nan syahdu menghiasi tempat ini kala malam.  So Romantic and Photegenic

Nol Kilometer Yogya
Nol Kilometer Yogya

Alun Alun Utara

            Walaupun ada perempatan, tetaplah berjalan lurus menuju Keraton Jogja. Tak jauh dari situ, di ujung jalan kita bisa melihat Alun-alun utara atau Altar. Alun alun utara juga dikenal dengan nama alun-alun Lor. Terdapat dua pohon beringin berpagar yang terletak di tengah alun-alun. Masing –masing pohon beringin itu diberi nama Kyai Wijayandaru dan Kyai Dewandaru. Dahulu, di sekeliling lapangan ditanami 63 pohon yang melambangkan umur nabi Muhammad saw.

Alun-alun Utara

Museum Sonobudoyo

            Setelah mendapati Alun-alun utara, jalan akan terbagi dua arah mengelilingi alun-alun. Pilih belok kanan dan kita akan mendapati Museum Sonobudoyo. Museum ini merupakan museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan berbagai macam koleksi mengenai budaya dan sejarah yang dianggap paling lengkap setelah museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Alat musik khas Jawa yang dahulu masih dipamerkan di Keraton Yogyakarta kini telah dipindahkan di museum ini. Istimewanya lagi, pada malam hari Museum ini menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit sebagai salah satu budaya Jawa yang sangat populer.

Museum Sonobudoyo
Museum Sonobudoyo

Masjid Gedhe Kauman

            Setelah berkeliling melihat benda bersejarah, mari melipir ke Masjid Gedhe Kauman.

Keraton Jogja. Masjid ini terletak di sebelah barat alun-alun utara. Masjid ini dibangun pada tahun 1773 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat dan Kyai Wirokusumo. Arsitektur Masjid ini masih sangat klasik, dengan gaya khas Jawa yang masih sangat kental. Bangunan Induk berbentuk Tajug persegi tertutup dengan atap bertumpang tiga. Saya memutuskan untuk melaksanakan sholat Dhuhur, karena kebetulan saya berada di Masjid bertepatan dengan waktu sholat Dhuhur.

Masjid Gedhe Kauman
Masjid Gedhe Kauman

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

            Setelah serangkaian perjalanan Panjang dari stasiun Lempuyangan, walking tour di Keraton Yogya. As we know¸ dahulu Keraton ini merupakan istana resmi kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bahkan sampai sekarang, keraton masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan den keluarga. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi kesultanan.

Keraton Jogja
Keraton Jogja

Nah, itu dia rute saya mengunjungi tempat menarik di Jogja dengan berjalan kaki. Kalau ada yang saya lewatkan, bisa ditambahkan rekomendasinya di kolom komentar.

Iklan

18 comments on “Rute berjalan kaki Jogja : Lempuyangan sampai Keraton Jogja

  1. Jadi kangen Jogja e

    Disukai oleh 1 orang

  2. kapan ya ke jogja lg

    Suka

  3. kangen jogja huhu

    Disukai oleh 1 orang

  4. Wah baca postingannya jadi kangen jogja juga euy…

    Disukai oleh 1 orang

  5. bedanya, aku pakai kereta kuda saat itu, bukan jalan kaki : )

    Disukai oleh 1 orang

  6. Jadi lebih penasaran dengan jogja

    Disukai oleh 1 orang

  7. Jadi kangen Jokeja! Tapi gamau ke tempat2 diatas hahaha *songong beud* 😛

    Disukai oleh 1 orang

  8. Sepanjang Jalan Malioboro banyak jalan-jalan kecil yang menarik, bro. Ada chinatown dan kampung wisata, ada sentra bakpia juga hehe

    Disukai oleh 1 orang

  9. Dr tugu pal, ke maliobor lanjut ke keraton itu lumayan lho sebenernya, tapi ga kerasa. Aku cukup sering. Dan ga pernah bosan 😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: