D.I YOGYAKARTA - INDONESIA

Nostalgia Jogja

Kereta Api Bogowonto yang saya tumpangi menembus gelapnya malam menuju Yogyakarta. Kota yang punya kenangan tersendiri dalam memori saya. Kota yang pertama kali saya jelajahi. Kota Istimewa. Ada banyak sekali kata yang bisa menggambarkan Jogja di hati saya. Tapi Intinya, Jogja memang Istimewa.

Kali ini, setelah 12 Tahun, saya kembali mengunjungi Jogja. Sebenarnya tidak ada rencana untuk kesini. Tapi mengingat adik saya kuliah disini, sayang juga kalau sudah di Jawa tapi tidak dolan ke kota yang kaya akan budaya ini. Makanya, setelah berkeliling di Bandung, saya memesan Tiket Kereta Api menuju Yogyakarta. Dan sendirian. Iccul sudah tidak bisa lagi menemani saya berjalan karena sudah harus masuk kuliah. Jadilah, saya solo traveling lagi.

Saya memutuskan untuk mengambil kereta malam, agar setelah bangun nantinya saya sudah sampai di Jogja. Sebenarnya saya juga agak khawatir kalau harus tidur dalam kereta, takutnya ada yang ngambil barang-barang di tas. Tapi semua pikiran negatif itu saya singkirkan dan saya mantap menumpangi kereta Malam. Sialnya, saya salah mengambil perhitungan soal kereta ekonomi. Ternyata susah juga kalau mau tidur, terutama Kaki saya yang agak tersiksa. Semua kursi dekat Tempat saya duduk semuanya full diisi oleh penumpang. sudah sempit, kaki saya pegal lagi karena susah mencari posisi nyamannya. Meski agak tersiksa, saya akhirnya tidur juga.

Jalan Kaki

Saya tiba di stasiun Lempuyangan sekitar pukul 06.00 pagi. Tiba di stasiun saya duduk sejenak di ruang tunggu stasiun sambil mengisi daya batere hp. Mungkin selama satu jam. Selanjutnya, saya meninggalkan stasiun dan berjalan kaki menuju Jalan Malioboro. Bagi saya, Jogja itu Jalan Malioboro. Tempat yang pertama kali saya kunjungi ketika saya ke Jogja 12 Tahun lalu. Tempat yang penuh kenangan. Sayangnya, ketika saya tiba di Malioboro, Jalan ini sudah agak berubah. Sisi Kiri Jalan (kalau dari arah Tugu menuju Titik 0 km) sedang dalam tahap renovasi. Ruang Pejalan kaki terlihat lebih luas. Tapi saya lebih suka dengan para pedagang pakaian dan souvenir khas jogja di sisi kanan. Mereka lebih mengingatkan saya akan pengalaman 12 Tahun lalu.

Dulu, saya membeli Pensil-pensil yang bagian atasnya diberi bentuk orang-orangan. Juga kendaraan-kendaraan yang terbuat dari kayu. Becak, Mobil kodok, dan Motor Harley. Ahh Kenangan masa kecil itu indah sekali ya. Saat itu masih agak pagi ketika saya berada di Malioboro, jadi pedagang souvenir agak sedikit. Kebanyakan yang saya lihat hanya pedagang Baju dan gantungan kunci. Duh saya lagi malas beli-beli.

Saya berhenti di depan pasar Beringharjo. Destinasi selanjutnya yang saya kunjungi 12 Tahun lalu. Saya memang sengaja mengunjungi tempat-tempat yang sudah saya kunjungi, sekadar untuk bernostalgia. Dulu, Mama membeli aneka pakaian seperti blouse dan Batik dengan harga murah disini.

Tampilan Pasar Beringharjo seingat saya sudah beda dengan yang sekarang. Warna Hijau Nampak menyelimuti seluruh tembok luar Pasar ini. Dulu sepertinya bukan warna hijau. *mikirkeras*

Setelah mengintip aktivitas para pedagang di Pasar Beringharjo, saya lalu melanjutkan perjalanan Nostalgia saya ke Keraton Yogyakarta atau Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dulu, sehabis belanja di Pasar Beringharjo, Kak Zul membawa saya dan keluarga ke Keraton ini. Dulu saya bertanya-tanya, keraton ini apa ya ?, Istana Kerajaan ?. Maklum, saya belum tahu banyak saat itu.

Karena saya sudah lumayan capai jalan kaki, saya memutuskan untuk naik becak. Dengan Rp.10.000 saya akhirnya sampai ke Keraton Yogyakarta, tapi ternyata masih tutup. Saya akhirnya hanya bisa melihat keraton dari luar saja. Di Luar, ada banyak tukang becak yang nunggu pundi-pundi rejeki lewat warga lokal atau wisatawan yang ingin menggunakan jasa mereka. Lalu ada seorang yang datang menghampiri saya, menawarkan paket jalan keliling tempat wisata di sekitar Kraton dengan becaknya. Hanya dengan Rp.10.000,- . Katanya sambil menunggu Kratonnya buka, jalan-jalan dengan becak saya saja. Saya mikir dulu, dan akhirnya saya terima saja.

dibawa ke toko batik
dibawa ke toko bakpia

Dengan Becak, saya dibawa ke bagian belakang kraton Yogyakarta, katanya itu rumahnya sri sultan. Katanya…., lalu setelah itu saya dibawa ke tempat pembuatan Batik. Tadinya saya pikir saya bakal dibawa ke tempat Batik Tulis itu, saya kan maunya lihat proses penulisannya. Ternyata batik cetak. Agak kecewa, tapi asik juga. Selanjutnya saya dibawa ke toko kaos dagadu, dan ke tempat penjual Bakpia Pathok, sambil melihat pembuatannya secara langsung. Saya awalnya mau beli tapi ternyata mahal hahaha, jadi tidak beli. Belakangan saya mikir, saya kena scam tidak ya ?

keraton jogja

Setelah berkeliling, saya kembali ke Keraton. Keraton akhirnya buka. Saya membeli Tiket seharga Rp.5000, dan Tambahan Rp.2000 jika ingin mengambil foto di dalam Keraton. Rempong juga. Kenapa tidak disatukan saja ya ?, atau tidak usah ada tambahan seperti itu. Ya sudahlah. Saya masuk dan melihat seisi keraton.

keraton jogja
keraton jogja
keraton jogja

Keraton Jogja dari segi penampilan tidak ada yang berubah. Hanya saja, 12 tahun lalu ada banyak alat musik khas jawa tersimpan rapi di atrium keraton. Ternyata alat musik tersebut telah dipindahkan ke museum Sonobudoyo. Selain itu, rasanya keraton Jogja masih seperti yang dulu hahah. Setelah berkeliling dan mengambil foto, saya memutuskan untuk beralih ke tempat wisata selanjutnya.

Iklan

14 comments on “Nostalgia Jogja

  1. Pasti sambil dengerin lagunya Katon “pulang ke jogja”

    Disukai oleh 1 orang

  2. Jogja istimewah πŸ˜„

    Disukai oleh 1 orang

  3. aku lumayan trauma dengan ajakan tukan becak yang mengajak mampir ke sini dan ke situ yang ujung2nya mampir ke toko yg sudah bekerjasama dengan si tukan becak, dulu waktu smp sih gitu terus pas ga beli agak dipojokan gitu, kunjungan beberapa kalinya lebih memilih naik kereta kuda biarpun mahal tapi berasa seperti seorang raja hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  4. seru dirimu lht langsung pembuatan bakpia

    Disukai oleh 1 orang

  5. tehel konci di lantai itu bagus. kesan heritagenya jadi dapet.

    jalan2 keliling cuma bayar 10 ribu lumayan sih buat bantu bapak2 yang nungguin pundi2 uang hehe.. bagi rejeki. semoga saja aku ada kesempatan keliling jogja.

    Disukai oleh 1 orang

    • Wah aku kok gak nyadar ya kalau lantainya keren gitu hahah *kurangpeka*

      Iya, termasuk murah sih. Tapi yang dikunjunginya semuanya toko. Gak kalau gak beli-_-. amiin.

      Suka

  6. Jogja selalu ngengenin untuk di kunjungi, banyak sekali tempat2 menariknya.
    memang banyak tukang becak yang nawarin “paketan” .. saya sih ga ambil .. ngeteng aja .. tapi jadi lebih mahal … haha .. dasar

    Suka

  7. Ping-balik: Rute berjalan kaki Jogja : Lempuyangan sampai Keraton Jogya – Bukan Pajokka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: