SULAWESI SELATAN - INDONESIA

Sekilas tentang Museum Kota Makassar

          Seperti yang saya tulis di Post Interest para Travel Blogger, yang paling saya suka dari Wisata Kota adalah sisi Sejarah, Religi dan Budaya-nya. Berkunjung ke Tempat-tempat ibadah, Monumen, Museum atau kawasan Multietnis adalah favorit saya. Namun untuk yang berbau sejarah, baru akhir-akhir ini saya mulai tergugah untuk mengunjungi semuanya satu-persatu, apalagi Museum. Di Makassar sendiri, yang saya tahu hanya ada 3 Museum. Museum yang pertama adalah Museum La Galigo yang terdapat di Benteng Rotterdam. Lalu ada Museum Karaeng Pattingalloang di Benteng Somba Opu. Dan yang terakhir Museum Kota Makassar yang letaknya tak jauh dari Fort Rotterdam.

Dua Museum sudah saya kunjungi, yaitu Museum La Galigo dan Museum Kota Makassar. Keduanya masih terbilang sepi, dan kadang menyeramkan. Museum La Galigo masih mending, saat saya berkunjung masih ada orang lain selain saya saat itu, apalagi keberadaannya yang berada di dalam area Fort Rotterdam yang lumayan menarik, membuatnya juga punya kemungkinan untuk lebih banyak dikunjungi. Tapi, Museum Kota Makassar ? tidak seberuntung Museum La Galigo.

Di Indonesia sendiri, Museum memang masih menjadi urutan yang ke sekian kalau soal wisata, apalagi wisata kota. Orang mungkin akan lebih suka berkunjung ke tempat terkenal yang ikonik, instagramable, ramai dan keren. Kalau di Makassar, Pantai Losari masih menjadi nomor satu. Lalu Museum ? Dilupakan.  Menurut saya, kurang tertariknya orang terhadap sejarah adalah faktor penyebab. Ditambah lagi, Kondisi Museum yang kurang menarik, kurang terawat dan kadang menyeramkan. Kedua faktor tersebut yang membuat Museum semakin jarang dikunjungi. Mengingat zaman sekarang ini, orang berlomba-lomba berwisata bukan hanya sekadar jalan-jalan, tetapi ajang pamer foto di Instagram. Kalau tempatnya kurang menarik dimasukkan ke dalam sosmed, Ma’as Salaamah.

Tampak Depan MKM
Tampak Depan MKM

Ya, Mungkin seperti itu Pula yang terjadi pada Museum Kota Makassar, Bangunan berlantai dua yang terletak di jalan Balaikota ini jarang dikunjungi Wisatawan. Setidaknya itu yang saya alami di Kunjungan pertama dan kedua saya disini. Di Kunjungan pertama, saat saya belum menjadi Blogger. Saya hanya sekadar jalan-jalan. Dan Kondisi saat itu sepi. Nyaris hanya saya saja yang ada di Museum, kalau saja tidak ada petugas. Padahal sejatinya, Bangunan bergaya colonial ini memiliki pesona tersendiri di mata saya, ya salah satunya Bangunannya yang bergaya colonial.  Bangunan ini adalah Bangunan peninggalan Belanda, berdiri sejak 1916. Sebelum difungsikan sebagai Museum, Bangunan ini dulunya Kantor Walikota Makassar, sebelum walikota saat itu, Amiruddin Maula memindahkan fungsi Kantor Walikota ke Bangunan lain. jadilah, sejak tahun 2000, Bangunan itu berfungsi sebagai Museum yang mencatat perkembangan Kota Makassar sejak jaman pertama kali VOC menginjakkan kaki disini.

Selain Gaya Bangunan, apa yang disajikan Museum ini juga menarik perhatian saya. Sejarah Kota Makassar. Mulai saat Belanda menguasai Makassar sampai sekarang ini. Foto-foto walikota Makassar dari yang pertama sampai yang sekarang. Etnis-etnis yang ada Makassar. Semuanya menarik untuk dipelajari disini. Tapi sayangnya, Sejarah selalu disajikan dengan cara yang membosankan, membuat banyak orang yang tak tertarik dengan sejarah, mereka akhirnya lupa sejarah.

?

?

?

Melihat bangunan ini, serta konsep apa yang digunakannya, saya lalu mengingat Galeri Kuala Lumpur yang tak jauh dari Dataran Merdeka Kuala Lumpur. Galeri Kuala Lumpur juga menyajikan Sejarah Kuala Lumpur dari tahun ke tahun. Meski konsepnya sama, cara penyajiannya berbeda. Galeri Kuala Lumpur jauh lebih menarik. Saat kami melihat bagian luarnya saja, kami sudah terkagum-kagum dengan sebuah Tulisan raksasa bertuliskan I LOVE (dilambangkan dengan hati) KL. Banyak orang berlomba-lomba untuk berfoto di situ. Saat masuk, kami lalu dibuat terpana dengan suasana Galeri yang lebih mirip arena bermain dari pada museum sejarah. Belum lagi di sebuah ruangan di lantai dua yang berisi maket kota Kuala Lumpur. Itulah bagian favorit saya. Disitu dijelaskan sejarah kota serta rencana kota ke depannya dalam bentuk slide. Sangat keren. Belum lagi Galeri yang menjual aneka souvenir yang keren-keren.  Lengkap sudah.

Saya lalu berpikir, kenapa Museum Kota Makassar tidak ditata sedemikian rupa ya ?. padahal sejatinya Museum Kota Makassar sudah memiliki modal yang menarik. Hanya perlu dipoles saja. Dikelola seperti Galeri Kuala Lumpur, kalau perlu dibaut lebih dari pada itu. Mungkin di setiap Minggu ada tarian tradisional atau apalah. Atau di depan museum dipasang anjungan dan  patung Maskot kota Makassar. Museum Kota Makassar pasti akan ramai dikunjungi wisatawan, mulai dari yang suka sejarah sampai yang suka Narsis doang.

?

?

Tapi bicara tidak segampang realisasi. Masalah utamanya adalah DANA. Kurangnya dukungan dari Pemkot membuat pengelola tidak mampu berbuat banyak.

Tapi di Kunjungan saya yang kedua, Museum Kota Makassar mulai sedikit berbenah. Tempat untuk memamerkan benda-benda sejarahnya sudah diganti dengan yang baru. Foto Sultan Hasanuddin sudah berada dalam lemari kaca. Lantai dua sedang dalam perbaikan. Semoga ini merupakan pertanda baik untuk Museum Kota Makassar ke depan. Semoga semakin banyak yang tertarik ke Museum ini, agar Sejarah Kota Makassar tidak hilang begitu saja.

Iklan

12 comments on “Sekilas tentang Museum Kota Makassar

  1. sayang waktu ke makassar gk smepat ke museum

    Disukai oleh 1 orang

  2. Setuju banget tuh.. 😀 klo pengelolaan museum bisa dijadikan tempat menarik utk wisata, maka akan lebih ramai pengunjung dan setiap generasipun akan menghargai sejarah bangsanya sendiri… management museum spertinya tuh harus lbih kreatif lagi… 😀

    Disukai oleh 1 orang

  3. Yaaah, sayang banget ya museumnya nggak begitu dikelola dengan baik -_- padahal banyak sejarah yang bisa kita pelajari dari situ -_-

    Disukai oleh 1 orang

    • Ya seperti itulah gambaran Museum di Indo kebanyakan. Memang ada yg berhasil dikemas dengan begitu apik, tapi sisanya tidak bernasib sama.

      Suka

      • Sayaaaaang banget sebenernya -_- huuuuft. iyaaa seharusnya pemerintah belajar dari museum yang dikemas apik, buktinya hasilnya keren. Kenapa sisanya nggak dikemas dengan apik pula? sediiih

        Disukai oleh 1 orang

  4. Masalah muzium yang tidak cukup dana & tenaga kerja bukan sahaja persis di Indonesia malah di Malaysia juga. Galeri Kuala Lumpur nampak vibrant kerana banyak wang disalurkan kepada mereka tetapi muzium di negeri-negeri lain ceritanya sama seperti Museum Kota Makassar – hidup segan, mati tak mahu.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Pengen keliling kota Makassar + museum ini. Terakhir cuma sempat transit di bandaranya 😀

    Disukai oleh 1 orang

  6. wah museum di Makassar 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  7. kribolover

    Jadi bergairah utk ke makassar lagi hehehe nice post.. terimakasih sudah berbagi. Kunjung jg ke blog sikribo
    cemilan bukan-bukan, bukan keripik bukan kerupuk tapi gurih dan renyahnya bukan main-main. Info order, agen, reseller dan dropship silah hub phone/WA 082250295001 (tras). http://www.sikribo.id

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: