SULAWESI SELATAN - INDONESIA

Lemba Pangi : Tentang Desa yang Merindukan Cahaya

        Saya masih berkutat dengan ponsel saya, menunggu teman yang katanya akan menjemput saya di kota kecil ini menuju lokasi kegiatan Baksos itu dilaksanakan. Sekarang saya berada di Takkalasi, kota kecil di Kabupaten Barru yang secara adminitratif menjadi ibukota kecamatan Balusu. Ini sudah satu jam, dan dia belum datang-datang juga. Pfft.., katanya dia sudah berangkat. Padahal setahu saya, jarak dari Lokasi Baksos ke Takkalasi tidak jauh. Hahah, memang dasar orang Indonesia, katanya sudah di Jalan, padahal aslinya baru mau berangkat.

Satu jam lebih, baru akhirnya Rian, teman yang menjemput saya  tiba tepat di depan saya. Dengan mobil Toyota Yaris bersama Fadel. Saya akhirnya dibawa menuju Lokasi Baksos. Tidak sampai 30 menit, kami akhirnya sampai di Dusun Lembah Pangi. Lokasi Baksos Akbar yang diadakan oleh Fosmadim bekerja sama dengan HMI Cab. Barru, dan BEM STIA Al-Gazali.

Kondisi Dusun ini sungguh masih sangat memprihatinkan, terlebih saat kami masuk ke dusun ini. Jalannya masih belum beraspal. Ini masih pendapat pertama saya mengenai dusun ini. Saya belum melihat jauh ke dalam. Saya turun dari mobil dan berjalan menuju posko. Disana, teman-teman yang lain menyambut, sebut saja Indah, Qiqah, Fitri dan banyak lagi. Mereka sedang bersantai di bawah rindang pohon menikmati cemilan. Suasana khas pedesaan sangat kental disini.

Suasana Posko
Suasana Posko
Suasana Dusun Lemba Pangi
Suasana Dusun Lemba Pangi
Suasana Dusun Lemba Pangi
Suasana Dusun Lemba Pangi

Gema suara adzan tiba-tiba menggema dari Masjid yang menjadi bangunan pertama yang kami jumpai ketika memasuki desa ini. Masjid yang masih setengah jadi, itu jelas terlihat dari dindingnya yang masih memperlihatkan batu batanya, ditambah lagi, Masjid belum dilengkapi tempat wudhu. Untungnya, lantainya sudah dilengkapi keramik, setidaknya itu satu-satunya yang membuat saya nyaman beribadah. Di Masjid, hanya ada Sulaiman, si Ketua Panitia yang mengumandangkan adzan, sekaligus menjadi imam. Tidak ada warga yang ikut sholat ashar di Masjid. Hanya kami-kami saja.

Masjid Lemba Pangi
Masjid Lemba Pangi

Selesai sholat, kegiatan sore itu adalah membabat tanaman-tanaman liar di sekitar masjid dan jalanan. Dimulai dari pinggir jalan yang dipenuhi tanaman liar yang sudah menjalar kemana-mana. Kami membabatnya sedikit demi sedikit agar jalan masuk ke dusun tidak terkesan sangat pedalaman. Setelah jalan masuk dusun agak rapih, kami beralih ke Masjid yang halamannya juga dipenuhi rumput liar dan ilalang.  Miris rasanya, warga disini tak ada yang peduli untuk merawat Masjid, apalagi menghidupkannya.

12919037_1083766301680772_1306567604_n
Kerja Bakti
12968552_1083766335014102_1453318533_n
Kerja Bakti
Kerja Bakti
Kerja Bakti

***

Sholat Magrib berjama’ah dilaksanakan dan dilanjutkan dengan Pengajian Al-Quran. Para panitia mengajar anak-anak Lemba Pangi untuk membaca Al-Quran yang dimulai dengan metode iqra’. Suasana Masjid malam itu kurang mendukung karena lampu yang remang-remang meski sudah dibantu dengan daya dari sebuah mesin generator. Begitulah malam di Lemba pangi, remang-remang.  Karena listrik tidak sampai di desa ini, padahal desa ini tidaklah berada di pedalaman hutan belantara atau di daerah pegunungan, tidak pula jauh dari kota. Desa tetangganya juga tidak jauh, dan Desa Tetangganya menikmati aliran listrik.  Malamnya setiap rumah dibantu dengan mesin generator, itupun hanya sampai pukul sebelas.

Tapi remang-remangnya Masjid tidak mengurangi semangat anak-anak Lembah Pangi untuk mempelajari kitab Tuhannya, saya lalu terharu dibuatnya.

Ngajar Ngaji
Ngajar Ngaji
Anak-anak Lembah Pangi
Anak-anak Lembah Pangi
Anak-anak Lembah Pangi
Anak-anak Lembah Pangi

Sesudah belajar mengaji, kegiatan dilanjutkan dengan sholat isya berjama’ah dipimpin oleh Fadel. Kegiatan berlanjut di posko yang berupa rumah panggung khas rumah bugis kebanyakan. Tidak banyak kegiatan malam itu, hanya Makan malam, ngobrol, dan kegiatan basa-basi lainnya. Maklumlah, sesudah sholat isya, tidak ada lagi agenda baksos, selain istirahat.

Bersih-Bersih Gereja

Keesokan harinya, Agenda Baksos adalah Membersihkan Tempat ibadah, dalam hal ini yang masuk daftar adalah Gereja yang ada di Kota Barru. Saya sempat penasaran, sejak kapan ada gereja di Barru ?, awalnya setahu saya 100% penduduk Barru adalah Muslim, hingga akhirnya saya melihat gereja itu secara langsung. Dari sana, saya tahu lagi kalau ternyata ada 4 Gereja yang berdiri di Barru. 3 Gereja berdiri berdekatan di Bukit yang ada di Kota Barru, 1 lainnya berada jauh di kecamatan Tanete rilau. 2 Gereja menjadi tempat agenda bersih-bersih Fosmadim, yaitu Gereja Toraja jemaat Barru dan Gereja Katolik Santa Maria.

Gereja Toraja Jemaat Barru
Gereja Toraja Jemaat Barru

Pihak Gereja dengan baik menyambut massa fosmadim yang lumayan banyak. Kebetulan saat itu memang pihak gereja sedang mengadakan kerja bakti untuk menyambut Paskah. Setelah membersihkan Gereja Toraja, kegiatan dilanjutkan di Gereja Katolik yang berhadapan dengan Gereja Toraja ini. Membersihkan halaman Gereja ini tidak butuh waktu lama karena area gereja ini sudah dibeton semua. Tidak ada rumput-rumput liar, hanya ada daun-daun yang berguguran dari pohon yang ada di sekitar Gereja.

Setelah kerja bakti di dua gereja, para panitia kembali ke Lokasi Baksos, yaitu Lemba Pangi.

***

Langit sudah gelap saat mobil yang membawa para panitia Baksos dari gereja di kota Barru memasuki Lemba pangi. Sayangnya, tidak ada satupun panitia yang tinggal saat itu sehingga tidak ada yang menghidupkan Mesin Generator Masjid, tidak ada yang adzan, dan tidak ada yang memimpin sholat Magrib, Belum ada imam dari warga setempat, belum ada muazzin dari warga setempat. Semuanya ditangani oleh Panitia. Khawatir mulai terbesit, Bagaimana dengan anak-anak yang mau belajar mengaji ?, apakah mereka datang ke Masjid melihat tak ada satupun dari panitia yang tinggal di desa ? , apakah mereka yang datang akan menunggu ?. dan rasa khawatir lainnya.

Ketakutan itu sirna seketika saat kami tiba di Lembah Pangi dan melihat anak-anak terlihat memenuhi Masjid. Ternyata mereka datang, dan setia menunggu, meski katanya, beberapa anak ada yang sudah pulang. Saya terharu, terharu dengan semangat mereka. Andai saja di desa ini ada guru mengaji tetap yang mengajar mereka hingga mereka khatam, pastilah anak-anak di desa ini banyak yang akan pandai membaca Al-Quran. tapi untunglah, beberapa anak ada yang sudah agak mahir membaca Al-Quran, karena pengaruh pelajaran Agama yang diajarkan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.  meski di Lemba Pangi tidak ada sarana pendidikan, untunglah desa tetangga menjadi solusi bagi anak-anak di desa ini untuk memperoleh pendidikan. Itu sedikit melegakan.

Suasana malam kembali di Posko yang remang-remang, dan akan padam total pada jam 11 malam, itupun kalau bahan bakar mesin generatornya tahan sampai jam 11.  Suasananya agak sepi karena  beberapa panitia ada yang sudah pulang ke Makassar karena tuntutan tanggung jawab lainnya, seperti kuliah dan organisasi lainnya.  Begitulah keadaannya, kami harus bergantian berada di Posko karena kuliah, begitu beberapa orang datang, yang lainnya pergi. Meski ada juga yang rela mengorbankan waktunya itu tinggal di Lokasi selama acara berlangsung yaitu 10 hari, dan merekalah pahlawan yang sesungguhnya.  Lalu bagaimana dengan saya ? saya hanya sempat berada disana selama 3 hari, karena ada dua tanggung jawab yang sama pentingnya, dan itu tidak boleh ditinggalkan.

Seperti itulah Gambaran kecil Lemba Pangi yang saya kenali selama tiga hari. Desa yang seakan dibekukan zaman. Tanpa Listrik, tanpa sarana pendidikan, tanpa jalanan yang layak, tanpa sumber daya manusia yang mumpuni. Mereka seakan hidup tanpa cahaya. Cahaya Lampu yang semestinya menerangi malam mereka, dan Cahaya Agama yang semestinya menerangi hidup mereka.

***

Selain bersih-bersih desa dan Mengajar mengaji, ada lagi beberapa program kerja yang dilakukan dalam kegiatan Baksos ini, yaitu Kaligrafi Masjid, Penyuluhan Kesehatan, Penyuluhan Pertanian, Pertandingan Olah Raga dan Pengadaan listrik. Namun, selama saya disana, program yang ikut saya laksanakan hanya Bersih-bersih desa, Mengajar Mengaji serta Bersih-bersih tempat ibadah.

Setelah Baksos berlangsung, listrik akhirnya telah menerangi malam di Lembah Pangi. Ini merupakan salah satu program dari Baksos ini, Setelah Bekerja sama dengan PLN daerah setempat untuk mengadakan listrik. akhirnya Malam di Lembah Pangi, tak lagi gelap.

Iklan

12 comments on “Lemba Pangi : Tentang Desa yang Merindukan Cahaya

  1. Rifqy Faiza Rahman

    Luar biasa kontribusinya Mas, turut senang 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. senang kalau bisa sharing dan berbagi ilmu, bermanfaat bagi masyarakat yang sangat membutuhkan

    Disukai oleh 1 orang

  3. Indahnya saling membantu. Kota Barru ini di Toraja ya Mas?

    Suka

  4. Travelling Addict

    Sunnguh indah sekali kebersamaannya 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  5. Oh barru ada gereja juga, gw pikir sama lho muslem semua hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  6. Tak perlu banyak basa-basi lagi. aku suka blogmu dan gayamu menulis. Sulawesi belum ku jamah sama sekali. Gambaran pedesaan ditulisan diatas bikin pengen menikmati langsung alamnya, dan interaksi dengan warganya. Ijin follow dan salam kenal ya. Ntar kalo ada jalan-jalan ke sulawesi, boleh kiranya saya disambut. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: