SINGAPORE

Masjid Sultan, Terbesar dan Tertua di Singapura

Kami meninggalkan Bugis Street menuju Masjid Sultan. Lewat petunjuk yang kami lihat di stasiun, dan bertanya kesana kemari, kami akhirnya tahu letak Masjid Sultan yang dikenal sebagai Masjid terbesar dan tertua di Singapura itu. Berbeda dengan destinasi sebelumnya yang biasanya harus kami tempuh dengan menggunakan MRT, kali ini kami hanya perlu berjalan kaki. Karena ternyata letak Masjid Sultan dengan Bugis Street lumayan dekat.

Dalam perjalanan kami menuju Masjid Sultan pula, kami menemukan Beach Road, yang masih satu jalur dengan arah menuju Masjid Sultan. Di Beach Road, kami akan menuju Golden Miles, tempat bus kami menunggu penumpang untuk kembali ke Malaysia. kami harus check in pukul 15.00 waktu setempat. Karena waktu masih ada, kami memutuskan ke Masjid Sultan terlebih dahulu, dan ternyata masih satu jalan. Kebetulan yang menyenangkan. Seandainya saja kami tidak ketinggalan bus tadi, pastilah kami punya waktu lebih banyak untuk mengeksplor kota.

Tampak Depan Masjid Sultan
Tampak Depan Masjid Sultan
Masjid Sultan Singapura
Masjid Sultan Singapura

Kami menyusuri beach road, dan tak lama kemudian melihat sebagian kubah Masjid hanya sebagian karena dihalangi bangunan di dekatnya. Dari Beach road kami menyusuri gang kecil bernama Arab Street dengan bangunan-bangunan tua yang kebanyakan berfungsi sebagai ruko. Banyak pedagang disini. Ada yang menjual souvenir, ada juga yang menjual makanan. Kami menyusuri gang itu dan akhirnya melihat Masjid Sultan dengan jelas. Masjid bergaya Mogul India dengan Β nuansa emas di bagian kubahnya, dan krem bercampur coklat di bagian bangunan utamanya Saya menaruh sandal, lalu berwudhu di bangunan yang berlainan yang tak jauh dari Masjid. Usai berwudhu, saya langsung masuk Masjid dan melaksanakan sholat dhuhur dijamak ashar.

Serambi Masjid
Serambi Masjid
Serambi Masjid
Serambi Masjid
Serambi Masjid
Serambi Masjid

Usai sholat saya istirahat sejenak, sambil memerhatikan arsitektur di bagian dalam Masjid yang bernuansa Melayu. Warna di bagian dalam didominasi oleh warna hijau. Adem dipandang mata. Bagian dalam Masjid ini terdiri dari beberapa bagian. Bagian yang pertama kali saya masuki sebelum ruangan utama adalah serambi. Turis Non Muslim diperbolehkan hanya sampai ruangan ini. Di ruangan ini terdapat beberapa papan informasi tentang Masjid, tak lupa bacaan-bacaan untuk menambah wawasan keislaman.

Ruang Sholat  Utama
Ruang Sholat Utama
Ruang Sholat  Utama
Ruang Sholat Utama
Ruang Sholat  Utama
Ruang Sholat Utama

Setelah serambi barulah pengunjung mendapati ruang sholat utama. Masjid ini terdiri dari 2 lantai, lantai dasar dan lantai mezanine. Keduanya dapat menampung 5000 jama’ah. Lantai dasar terdapat Mihrab dan Mimbar. Mihrabnya berbentuk lengkungan didominasi warna hijau dengan ukiran kaligrafi dan ornament berwarna emas. Lalu mimbar berwarna coklat tua atau hitam tak jauh dari mihrab.

Mihrab dan Mimbar
Mihrab dan Mimbar

Dilihat dari sejarahnya, Masjid ini dibangun oleh Sultan Hussain Shah Johor, pemilik Singapura kala Singapura diserahkan kepada Inggris. Masjid ini dibangun di Kampong Glam, kampung yang dialokasikan Inggris untuk warga Melayu dan Muslim sebagai keistimewan atas penyerahan Singapura untuk Inggris. Masjid ini dibangun mulai tahun 1824 hingga 1826 tidak jauh dari istana Sultan. Dana pembangunan Masjid ini sendiri berasal dari sumbangan East India Company dan Sumbangan Masyarakat Muslim setempat, termasuk masyarakat bugis. Konon katanya, Para Pengusaha Bugis menjual aset-aset berharga mereka seperti tanah dan kapal hanya untuk bisa memberikan sumbangsih demi pembangunan Masjid ini.

Awalnya kubah masjid ini berbentuk kubah masjid nusantara yaitu dengan ciri khas atap limas bersusun tiga, namun pada tahun 1900-an Masjid Sultan kemudian tak mampu lagi menampung jama’ah yang terus berkembang pesat atas perkembangan Singapura yang saat itu juga menjadi pusat perdagangan islam, maka masjid tersebut dibangun lebih besar dan mengalami perubahan, termasuk bagian kubahnya yang kini tak lagi berbentuk limas bersusun tiga. Hingga kini Masjid Sultan dikenal sebagai Masjid Tertua dan Terbesar di Singapura.

Pukul 14.30 waktu setempat, kami meninggalkan Masjid Sultan, menyusuri jalan kecil melewati Malaya Heritage Site dan kembali ke Beach Road. Kami menyusuri Beach Road, dan menemukan Golden Miles. Awalnya kami bingung mencari counter tempat perusahaan bus yang kami akan tumpangi itu berada. Ternyata Golden Miles ini punya dua gedung. Dan Kounter Bus Five Star berada di gedung baru. Setelah menemukan counter bus five star, kami check in dan menunggu bus. Sekitar pukul 16.30 kami akhirnya meninggalkan singapura.

Iklan

28 comments on “Masjid Sultan, Terbesar dan Tertua di Singapura

  1. Mihrabnya tampak sangat megah, pilihan warna hijaunya apik sekali. Masjidnya juga luas dan sangat bersih. Pasti betah berlama-lama di sana :)).
    Orang-orang Bugis keren ya, mereka mengorbankan harta benda supaya bisa memiliki tempat ibadah.

    Suka

  2. Paling enak kalo jalan2 ketemu masjid ya mas.. bisa shalat skalian istirahat sebentar sambil meluruskan kaki…

    Disukai oleh 1 orang

  3. Rifqy Faiza Rahman

    Masjidnya bagus. Apalagi menarik sekali ketika membaca sejarah awalnya πŸ™‚

    Suka

  4. Baca artikel ini saya melihat sisi lain Singapore, soalnya sebelumnya hanya tahu orchard road dan patung merlion saja. πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

  5. Dan kalau tidak salah, bagian dasar dari kubah Masjid Sultan ini disusun dari botol-botol berwarna hijau, coba deh kapan-kapan kalau sempat -atau misalnya punya koleksi foto lainnya yang lebih jelas- dizoomin bagian dasar masjidnya dari luar ….

    Suka

  6. melihat arsitektur dan ornamennya yg menarik..saya membayangkan bila lampu2 tersebut menyala pada sore atau malam hari..pasti terlihat lebih indah dan syhadu πŸ˜€

    Disukai oleh 1 orang

  7. suasana mesjid kayaknya enak, adem bikin teduh
    enak berlama lama disini … kalau mesjid seindah ini suka terbawa suasana, kalau ada yang ngaji jadi kebawa pengen ngaji juga ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: