SINGAPORE

Kisah Manusia Bugis di Singapura

         Suku Bugis dikenal sebagai salah satu suku yang gemar merantau ataupun berlayar, kepiawaian mereka dalam mengarungi samudera cukup dikenal luas, dan wilayah perantauannya pun bukan hanya daerah lain di Indonesia seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan atau Papua tetapi juga ke Negara-negara lain seperti Malaysia, Filiphina, Brunei, Singapura bahkan sampai ke Afrika Selatan.  Salah satu alasan Suku yang mayoritas penduduknya tinggal di Pulau Sulawesi khususnya Sulawesi selatan ini merantau karena konflik antara Kerajaan Bugis dan Makassar serta Konflik sesama kerajaan Bugis. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang bugis memilih untuk menjadi Perantau, mencari kedamaian dan kebahagiaan.

Di Perantauan, Suku Bugis mengadu Nasib. Diantara mereka ada yang memilih menjadi Nelayan, seperti yang saya temukan di Selambai, Kalimantan Timur. Sebuah kampung Bugis yang penduduknya mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Ada juga yang berprofesi sebagai Pedagang, profesi yang menjadi karakter Orang Bugis.

Salah satu tempat yang menempatkan karakter Orang Bugis sebagai Pedagang adalah Singapura. Bahkan katanya, salah satu suku yang membuka perdagangan di negeri Singa sampai se-populer sekarang ini adalah Suku Bugis. Menurut Pelras, dalam bukunya Manusia Bugis, Awal mula Manusia Bugis datang ke Singapura dimulai saat Pedagang-pedagang Bugis membangun jalur perdagangan melalui pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Pelabuhan Paling pentingnya berada di Kepulauan Riau. Disitu, orang Bugis bebas berdagang tanpa campur tangan Belanda. Lama kelamaan, Pedagang Bugis menyaingi pedagang Belanda di Malaka. Karena Pedagang Belanda menerapkan kebijakan jangka panjang unit profit yang tinggi atau dengan kata lain terlalu banyak mengambil untung. Sedangkan Pedagang Bugis membuka Riau sebagai tempat dagang yang terbuka untuk semua, sehingga pedagang Tionghoa, Inggris, dan Jawa pun ikut meramaikan Perdagangan di Riau. Akhirnya, Riau menjadi pelabuhan penting dalam jalur perdagangan yang menghubungkan Laut China Selatan, Laut Jawa dan Samudra Hindia.

Karena kalah bersaing, Untuk melindungi kepentingan Perdagangannya, Belanda menduduki Riau untuk menyingkirkan Pedagang Bugis pada tahun 1784. Pedagang Bugis dihalang-halangi lewat peraturan yang dipaksa oleh Belanda. Tapi Saat Inggris merebut Riau dari tangan Belanda, Pedagang Bugis diuntungkan. alasannya, Orang Bugis dan Inggris punya kepentingan yang sama. Tapi pada akhirnya, Belanda berhasil kembali menguasai Riau dan menyebabkan pedagang-pedagan Bugis menyingkir dan beralih ke Tamasek yang kini dikenal sebagai Singapura.

Menurut Pelras, Kehadiran Pedagang Bugis di Singapura adalah salah satu alasan Raffles melirik pulau kecil itu sebagai pos dagang. Singapura akhirnya jatuh ke tangan Inggris. Pintu Perdagangan di Singapura akhirnya dibuka, populasi orang Bugis di Singapura bertambah. Tercatat pada tahun 1824, populasi Bugis yang bermukim di Kampung Glam mencapai 1.851 orang dari total penduduk 10.683 orang. Bahkan setelah itu, kedatangan Pedagang Bugis terus berlangsung misalnya di tahun 1825, ada 120 perahu yang menyebrang ke Singapura.

Kawasan yang menjadi tempat orang-orang Bugis bermukim dan melakukan perdagangan bernama kawasan Kallang, yang masih eksis hingga sekarang. Tapi tidak lagi menjadi kawasan pemukiman pedagang bugis, tetapi menjadi Salah satu pusat Bisnis di Singapura. Di Kawasan ini terdapat sungai yang bernama Kallang River, bermuara di tepi laut China Selatan yang dulunya merupakan tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan dan saudagar bugis. Nah tak jauh dari Sungai itulah Bugis Village (perkampungan bugis) berada.

Tak jauh dari Sungai Kallang, yang diabadikan dengan nama jalan Kampong Bugis Street terdapat distrik Bugis yang menjadi kawasan bisnis yang terkenal di Singapura. Di Kawasan Bugis ini berdiri banyak pusat perbelanjaan terkenal dan yang terkenal adalah Bugis Junction dan Bugis Street.

*          *          *

Saya melirik jam lewat hp saya. Waktu yang saya sudah sesuaikan dengan waktu Singapura. Sudah jam 1 siang. Pantas !!, gumam saya. Matahari sudah terik, panasnya lumayan. Kami masih berada di Merlion Park, beteduh, duduk manis, sambil minum air yang saya beli di Woodlands. Kemana lagi ?, tanya saya pada majdi. Misi utama kami telah tuntas, Numpang Eksis di Merlion Park, dengan latar Patung Merlion, Esplanade dan Marina Bay Sands. Ya cari Golden Miles, tapi sebelumnya ke Bugis Street dulu. Okelah. Setelah istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Bugis Street, sekalian mencari Golden Miles, siapa tahu di Bugis Street kami dapat pencerahan.

Kami kembali ke Stasiun Raffles Place, menuju Marina Bay lalu disambung ke Bayfront. Nah dari Bayfront, kami menuju stasiun Bugis. Tidak perlu pusing-pusing mencari jalan keluar dari stasiun, banyak petunjuk. Nah dari stasiun ini kami menemukan petunjuk menuju Masjid Sultan dan Beach Road , Tempat Golden Miles berada. Kami memilih ke Bugis Street terlebih dahulu. Mengikuti petunjuk, ingat banyak pintu keluar dari stasiun. Pilih pintu yang mengarahkan kamu menuju tempat yang kamu tuju. Pas keluar dari stasiun, kami langsung menemukan Bugis Street, sebuah pusat perbelanjaan yang tidak lebih seperti pasar tradisional kebanyakan. Ciri utamanya adalah kanopi besar dengan layar raksasa di atapnya.

Bugis Street
Bugis Street
Bugis Street
Bugis Street

Kami memilih Bugis Street untuk berbelanja, karena penasaran dengan nama Bugis yang konon menyimpan sejarah tentang orang-orang Bugis disini. Terlebih karena kami memang orang Bugis Tulen. Saya masuk, berkeliling, membeli makanan, singgah di beberapa kios yang berjajar melihat-lihat dan memutuskan membeli 2 Souvenir bertuliskan Singapura sebagai buah tangan saya dari Singapura. Setelah berkeliling, membeli minuman dingin, saya keluar dari Pasar ini karena tempat ini lumayan ramai sesak. Tapi yang tak boleh dilupakan adalah tempat ini Bersih.

Bugis Street
Bugis Street
Mau Beli apa Mbak ?
Mau Beli apa Mbak ?
Bugis Street
Bugis Street
Bugis Street
Bugis Street
Bugis Street
Bugis Street

            Di Kawasan Bugis ini bukan hanya Bugis Street yang memiliki kata Bugis dalam namanya. Ada juga Bugis Junction, Bugis +, Bugis Square, dan Bugis Village. Itu setidaknya telah membuktikan kalau Manusia Bugis punya pengaruh dalam Perdagangan Singapura. Sebagai orang bugis, saya tentunya bangga banyak tempat-tempat bernama Bugis di Singapura. Apalagi dikenal sebagai salah satu pusat bisnis populer dan ramai dikunjungi oleh Wisatawan.

Iklan

37 comments on “Kisah Manusia Bugis di Singapura

  1. Waaha. Makasih Mas. Daridulu bertanya-tanya gimana sejarahnya Bugis Street. Seru baca ceritanya. Sekalinlagi makasih:)

    Disukai oleh 1 orang

  2. Rifqy Faiza Rahman

    Keren ya Suku Bugis, salut 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  3. Wah, aku jadi tertarik baca buku Pelras-nya, Manusia Bugis, secara kami ada turunan Bugis tapi minim info. Dan ini ulasan keren, ada sejarah singkat. 😀
    -Yuna-

    Disukai oleh 1 orang

  4. Suku Bugis juga memiliki pengaruh besar lho di Surabaya. Turut membangun beberapa masjid besar seperti Masjid Mujahidin, Masjid Kemayoran dan Al Falah 🙂 dan orang Bugis di Surabaya jumlahnya juga buuuuanyak sekali, saya salah satunya, hehehe. Udah hampir gak ada saudara di Makassar lagi. Surabaya sudah menjadi kampung halaman kami selama bbrp generasi.

    Suka

  5. Mencerahkan sekali ini tulisan sejarahnya.
    Jadi tahu sejarah Bugis di Temasek.

    Suka

  6. Suku Bugis memang keren ya… pelayar ulung, pedagang yang andal. Jadi makin tahu soal sejarah Kampung Bugis setelah baca tulisan ini. Umumnya orang hanya tahu dari sisi pelautnya saja, tapi di sini disajikan sejarahnya dengan seru banget. Saya terhanyut membaca ceritanya :aaaak, keren keren!

    Disukai oleh 1 orang

  7. Pelaut Bugis the frightening Boogieman! 😀

    Disukai oleh 1 orang

  8. nggak jawa aja yang dimana-mana, bugis juga, di kaltim juga banyak lho

    Disukai oleh 1 orang

  9. Baru tau sejarahnya begini, padahal tiap kali ke bumi rafles ini saya selalu ke bugis

    Disukai oleh 1 orang

  10. Karakter khas dari bugis dan indonesia timur pada umumnya : pemberani dan pelaut ulung. Mantap..

    Disukai oleh 1 orang

  11. Di Pulau Tagulandanag Sulawesi Utara, juga ada kampung Islam yang mayoritas penduduknya asal bugis juga… Orang-orang nya ramah dan sangat hangat…

    Disukai oleh 1 orang

  12. Jadi salut sama orang bugis.Kalau dilihat foto-fotonya sepertinya memang porsi bugis dalam urusan jual beli cukup dominan ya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: