SAUDI ARABIA

Jelajah 3 Masjid Madinah

     Waktu Dzuhur sebentar lagi akan masuk. Di waktu sempit itu, Guide menyempatkan diri membawa kami melewati 2 Masjid yang tak kalah pentingnya dengan Masjid Nabawi dan Masjid Quba. Ya, sebagai salah satu negeri Para Nabi, dan Negeri dengan Mayoritas Penduduk beragama Islam, dan tentunya menjadi destinasi utama Umat Muslim untuk melaksanakan Ibadah yang merupakan salah satu dari rukun islam, Arab Saudi memiliki banyak Masjid yang sangat sayang untuk tidak dikunjungi. Dari Jabal Uhud, Kami menuju ke Pusat Kota Madinah. Kami melewati Masjid Qiblatain terlebih dahulu.

        Masjid Qiblatain terletak 7 Km dari Masjid Nabawi. Dulunya, Masjid ini bernama Masjid Bani Salamah, karena Masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah, Namun saat ini bernama Masjid Qiblatain, yang secara Harfiyah Qiblatain memiliki arti 2 Kiblat. Mendengar namanya, saya sangat penasaran mengapa Masjid ini bernama Qiblatain ??, berarti ada 2 Kiblat dong di Masjid ini ??. Tidak. Di Masjid ini hanya ada 1 Kiblat, yaitu Kiblat menghadap Ke Ka’bah di Masjidil Haram Mekkah. Tapi kenapa namanya Masjid Qiblatain ??. Menghadapi pertanyaan yang muncul dari nama Masjid ini, Guide kami mulai menjelaskan Sejarahnya.

Masjid Qiblatain
Masjid Qiblatain

        Pada masa permulaan Islam, orang melakukan Shalat dengan menghadap Kiblat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) di Yerusalem, Palestina. Pada tahun kedua Hijriyah, tiba-tiba turunlah wahyu Surah Al Baqarah ayat 144 yang memerintahkan untuk mengubah arah kiblat ke Masjidil Haram. Pada saat itu, Rasulullah sedang melaksanakan sholat dhuhur, dan telah berlangsung 2 raka’at. Di 2 Raka’at awal itu, Rasulullah masih menghadap ke Masjidil Aqsha. Tetapi setelah ayat tersebut turun, Nabi lalu mengubah arah Kiblat 180 derajat ke Ka’bah, Masjidil Haram.

        Perisitiwa perpindahan Arah Kiblat tersebut dilakukan tanpa membatalkan sholat, juga tidak mengulangi sholat 2 raka’at yang telah berlangsung itu. Turunnya ayat untuk mengubah arah Kiblat itu merupakan jawaban dari keinginan dan keresahan Rasulullah yang memohon untuk memindahkan arah Kiblat. Hal itu sendiri terjadi akibat cemoohan kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka mengatakan bahwa apa yang dilakukan Rasulullah mencontoh ajaran nenek moyang mereka, yang terkait dengan Kiblat Umat Muslim menghadap ke Masjidil Aqsha.

       Dari peristiwa itulah, Masjid dengan Nuansa putih bersih itu kini dinamai Masjid Qiblatain, karena di dalamnya terjadi peristiwa Perpindahan Kiblat Umat Muslim dari Masjidil Aqsha ke Ka’bah, Masjidil Haram Mekkah. Sejujurnya, sangat disayangkan kami hanya bisa melihat Masjid itu dari luar saja. Kami tidak sempat masuk ke dalam karena mengejar waktu dzhuhur.

      Setelah melewati Masjid Qiblatain, kami lalu dibawa ke Masjid Sab’ah. Sama seperti Masjid Qiblatain atau Jabal Uhud, Masjid ini juga punya sejarah tersendiri dalam dunia Islam. Masjid ini terletak sekitar 3 Km di Pusat kota Madinah. Secara Harfiyah, Masjid Sab’ah berarti Masjid Tujuh. Memang, Masjid sab’ah merupakan penggabungan dari 7 Masjid kecil yaitu Masjid Salman, Masjid Abu Bakr, Masjid Umar, Masjid Usman, Masjid Ali, Masjid Fatimah dan Masjid Fath. Meski jumlahnya 7 Buah, Masjid ini tidak menjadi bangunan Masjid yang representatif untuk melakukan sholat berjama’ah Karena ukurannya kecil.

Masjid Sab'ah
Masjid Sab’ah

       Memang menurut Riwayat, dulunya Masjid ini merupakan pos Keamanan untuk berjaga-jaga yang ditempati oleh para sahabat ketika terjadi perang Khandak. Perang Khandak sendiri merupakan Perang ketiga setelah Perang Badar dan Perang Uhud. Secara Harfiyah, Khandak berarti Parit. Yah memang, karena pada Perang ini pasukan kaum Muslimin menggunakan Parit sebagai salah satu benteng pertahanan yang ampuh untuk mengalahkan pasukan kafir Quraisy.

      Peristiwa Perang Khandaq terjadi ketika kota Madinah dikepung dan akan diserang oleh pasukan Kafir Quraisy . Menyikapi kondisi seperti ini, salah seorang sahabat nabi, Salman Al Farisi mengusulkan untuk membentuk benteng pertahanan dengan membuat Parit di sekeliling kota Madinah terutama di bagian utara kota Madinah. Dan Walhasil, karena adanya parit tersebut, tujuan untuk menyerang kota Madinah gagal total. Kaum Kafir Quraisy hanya melepaskan anak panah, itupun sia-sia. Sesekali diantara mereka ada yang ingin menyebrangi parit tersebut, seperti Amr. Namun berakhir sia-sia, karena Amr berhasil dibunuh oleh Ali Bin Abi Thalib. Akhirnya, Pasukan Kafir Quraisy hanya berkemah di sekitar kota Madinah tanpa membawa hasil apapun.

       Nah, untuk mengawasi parit tersebut, dibangunlah pos pengawasan yang berfungsi ganda sebagai tempat sholat Nabi dan para sahabatnya. Dan Pos itulah yang kini menjadi Masjid Sab’ah. Masjid sab’ah hampir sama dengan Masjid Qiblatain, Karena dibalut dengan warna putih bersih dan dengan arsitektur Masjid yang klasik.

     Guide kami menambahkan, bahwa kini dari 7 Masjid yang dulu pernah ada, kini tersisa 5 Masjid karena menjadi korban perluasan kota oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi. Hiks hiks, sayang sekali ya ….

     Setelah melewati Masjid Sab’ah, Bus lalu melaju lebih cepat menuju Kota Madinah.

     Di Luar Kota Madinah, saat kami telah meninggalkan Kota Madinah menuju Kota Mekkah, saya dan jama’ah umrah mampir di Masjid Dzulhulaifah. Berbeda dengan 2 Masjid sebelumnya yang kami kunjungi ketika masih berada di Kota Madinah, Masjid ini kami kunjungi saat kami akan meninggalkan Madinah. Jika Jama’ah umrah dari Kota Madinah menuju Kota Mekkah, Maka masjid ini wajib untuk disinggahi karena Masjid ini menjadi tempat untuk mengambil miqat untuk melaksanakan ibadah Umrah atau Haji. Miqat sendiri merupakan pertanda dimulainya Ihram. Biasanya sebelum ke Masjid ini, jama’ah sudah memakai pakaian Ihram. Yaitu Pakaian berwarna Putih bersih dari bahan yang tak berjahit. Di tempat ini pula Jama’ah yang akan melaksanakan ibadah umrah melakuan Sholat Sunnah Ihram terlebih dahulu, baru mengambil niat Ihram dan bersiap melaksanakan Umrah.

      Masjid ini terletak sekitar 10 Km dari Kota Madinah, atau dapat ditempuh sekitar 15 menit. Sedangkan jarak Masjid Dzulhulaifah dari Kota Mekkah sekitar 450 Km, yang dapat ditempuh sekitar 4-6 Jam. Masjid dinamai Masjid Dzulhulaifah, karena Dzulhulaifah sendiri merupakan distrik dimana Masjid ini berada. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Miqat karena menjadi tempat para jama’ah mengambil miqat sebagai tanda dimulainya ihram. Selain itu Masjid ini juga bernama Masjid Bir Ali karena di daerah tempat Masjid ini berada terdapat Sumur milik Imam Ali. Bukan Cuma itu, Masjid ini juga memiliki nama lain Masjid Syajarah atau yang secara Harfiyah dapat berarti Pohon. Karena Dahulu Rasulullah pernah duduk di sebuah Pohon dalam perjalanannya menuju Kota Mekkah. Dan di dekat Pohon itulah Masjid ini dibangun.

       Berbeda dengan Kedua Masjid sebelumnya yang tidak sempat saya masuki, di Masjid Dzulhulaifah saya sempat masuk melihat-lihat bagian dalam Masjid ini sekaligus melaksanakan sholat Sunnah ihram. Masjid Dzulhulaifah terkesan unik, karena Masjid ini terdiri dari dua Bangunan. Bangunan Pertama berada di Luar, berbentuk segi empat (kalua dilihat dari atas) mengelilingi Bangunan di Bangian dalam yang berbentuk belah ketupat. Bangunan di Luar seperti sebuah Benteng yang melindungi bagian Dalam. Bentuk Masjid juga mirip seperti sebuah benteng pertahanan dengan gaya klasiknya yang menarik perhatian saya, terutama pada Pintu Utamanya, yang terdiri dari 3 Lengkungan. Lengkungan Besar berada di Tengah, dan 2 lengkungan kecil mendampingi lengkungan besar.

Pintu Masuk
Pintu Masuk

        Masjid ini cukup Luas ditopang dengan areal parkir yang dapat menampung 500 kendaraan kecil dan 80 kendaraan besarserta kamar mandi dan toilet yang banyak, ada sekita 512 Toilet dan 566 kamar mandi yang disediakan bagi jama’ah yang belum sempat mandi Ihram. Tapi sayang sekali, Kamar Mandi dan Toilet yang disediakan kurang terjaga kebersihannya. Luas Masjid sekitar 26 ribu meter persegi, sisanya 34.000 meter persegi terdiri dari jalan, areal parkir, pepohonan serta pavilion. Masjid memiliki menara setinggi 64 meter, menara dapat dilihat dari kejauhan.

Menara Masjid
Menara Masjid (sumber : disini )

 

       Saya hanya melaksanakan Sholat Sunnah Ihram di Masjid ini, lalu melihat sekeliling Masjid yang sangat Unik menurut saya. Lalu saya kembali ke Bus, bergabung dengan para jama’ah yang telah menunggu untuk berangkat ke destinasi utama kami. Namun saya dan jama’ah yang lain harus menunggu beberapa lama karena ada seorang jama’ah yang telah berusia lanjut yang tersesat. Beberapa orang telah berusaha mencari, tapi tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya, seseorang menelpon Guide tour kami. Ternyata Si Kakek salah masuk mobil bus. Untungnya beliau mengenakan ID Card yang terdapat nomor Guide Kami. Alhamdulillah, Dari situ saya tahu betapa pentingnya ID Card itu. Setelah Si Kakek telah bergabung kembali bersama rombongan, Niat Umrah pun dilantunkan. Dan Perjalanan menuju Kota Mekkah dimulai

Iklan

4 comments on “Jelajah 3 Masjid Madinah

  1. Ping-balik: The Amazing Madina | Travelucky

  2. Sayanya waktu itu juga tidak sempat ke mesjid qiblatain… cuma lewat aja. Bismillah semoga diberi rejeki bisa ke Madinah lagi 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: