SULAWESI SELATAN - INDONESIA

Makassar Rasa Belanda ala Fort Rotterdam

            Jalan-jalan ke Kota Makassar, kurang afdol rasanya kalau gak berkunjung ke tempat yang satu ini. Namanya Fort Rotterdam. Fort Rotterdam atau dengan nama Indonesia Benteng Rotterdam ini terletak di Jalan penghibur, Kota Makassar. Sepanjang jalan penghibur sendiri sudah berubah menjadi kawasan modern yang dipenuhi oleh hotel-hotel berbintang dan rumah makan. Tapi, meskipun begitu, benteng ini tetap eksis dan terpelihara nilai sejarahnya sampai saat ini.

            Jarak Fort Rotterdam dekat dari Pantai Losari dan Kawasan Somba Opu. Fort Rotterdam sendiri dulunya bernama Benteng Ujung Pandang (Jumpandang) dibangun pada tahun 1545 oleh Kerajaan Gowa sebagai Markas Pasukan Katak kerajaan Gowa. Menurut sejarah, Benteng ini direbut oleh pihak Belanda setelah kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin kalah atas penyerangan Belanda sekitar tahun 1655 hingga 1669, dan terpaksa menandatangani sebuah perjanjian yang disebut Perjanjian Bongaya. Kawasan benteng ini hancur pada perang itu, dan dibangun kembali dengan arsitektur Belanda, dan diberi nama Fort Rotterdam.

            Dibangun oleh Belanda, Sudah pasti membuat kawasan benteng ini memiliki cita rasa belanda yang tinggi dan kental dengan bumbu-bumbu sejarah yang rasanya sangat pas buat pecinta Sejarah.

            Sebelum kita memasuki  area Benteng, kita akan melihat patung sultan Hasanuddin menunggangi kuda. Lalu Tak jauh dari patung, ada anjungan bertuliskan fort Rotterdam dengan huruf-huruf raksasa. Untuk memasuki area benteng tidak perlu membayar, namun, kita harus mengisi buku tamu terlebuh dahulu di sebuah pos satpam di dekat gerbang masuk benteng. Kita akan membayar ketika ingin memasuki Museum La Galigo yang ada dalam area benteng, juga untuk biaya parkir.

DSC00992

  DSC00993

DSC00919

      DSC00948

           Kawasan benteng ini terbagi atas 5 bagian Sudut. Setiap bagian sudut disebut Bastion. Ada Bastion Bone, Bastion Buton, Bastion Bacan, Bastion Mandarsyah, dan Bastion Makassar. Awalnya hanya ada 4 Bastion, karena dulunya bangunan ini berbentuk segi empat, lalu ditambahkan satu bastion lagi di sisi barat.

DSC00935

            Di area Benteng ini ada sebuah Museum bernama Museum La Galigo. Penamaan La Galigo terhadap museum ini atas saran para cendekiawan dan budayawan dengan pertimbangan bahwa La Galigo atau I La Galigo adalah sebuah karya sastra klasik dunia yang besar dan terkenal, serta bernilai kenyataan kultural dalam bentuk naskah tertulis berbahasa Bugis. Pertimbangan lainnya adalah nama La Galigo sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat Sulawesi selatan karena La Galigo merupakan nama dari seorang tokoh legendaris putra dari Sawerigading opunna ware. La Galigo dinobatkan menjadi Payung Lolo (Raja Muda) di Kerajaan Luwu sebagai kerajaan tertua di Sulawesi selatan.

          Untuk memasuki museum, kita hanya perlu membayar Rp. 5000 untuk orang dewasa, Rp. 3000 untuk anak-anak, dan Rp. 10.000 untuk turis asing. Di dalam Museum kita akan melihat aneka macam benda-benda peninggalan sejarah. Di dalam museum terdapat referensi sejarah kebesaran Kerajaan Gowa-Tallo, dan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan. Di Museum ini juga terdapat alat-alat seni dan dan bukti kayanya budaya Sulawesi Selatan. Pokoknya Lengkap. Saat saya masuk ke dalam Museum kebetulan hanya saya dan Icul yang ada di dalam sehingga rasanya terkesan angker. Apalagi, lampu di dalam museum agak remang-remang. It’s scared me up

DSC00986

            Dalam Museum terbagi atas beberapa area. Area pertama tentang bukti-bukti sejarah kebudayaan lintas perdaban. Di tempat ini kita akan melihat aneka macam peralatan dan peninggalan manusia dari zaman ke zaman. Mulai dari alat masaknya, Alat pertaniannya, perhiasannya serta alat perangnya. Zamn zaman tersebut diantaranya : Zaman Berburu  dan Mengumpul makanan tingkat awal (Paleolitik), yaitu zaman dimana manusia baru mengenal kehidupan perburuan, masih tergantung pada alam dan belum menetap, hidupnya masih berpindah-pindah (nomaden) serta memilih tempat yag dekat dengan air dan sumber makanan. Kebanyakan peralatan di zaman ini berasal dari batu.

              Lalu ada zaman Berburu tingkat lanjut (Mezolitik), di zaman ini, manusia sudah memilih menetap sementara di gua-gua, meskipun masih tetap pada kehidupan nomaden. Lalu zaman bercocok tanam (Neolitik), yaitu Zaman dimana terjadi perubahan pola hidup manusia secara mendasar. dari yang awalnya mengumpulkan makanan, menjadi budaya memproduksi makanan. Setelah zaman Neolitik, ada Zaman Logam dan Perundagian (Paleometalik) yang ditandai dengan adanya teknologi pencampuran, peleburan dan penempaan logam.

                    Setelah Zaman Logam, ada Tradisi Megalitik, yaitu suatu corak budaya berlandaskan pada sistem kepercayaan dimana mereka percaya kepada arwah leluhur yang akan memberikan keselamatan di dunia, olehnya itu mereka harus selalu melakukan pemujaan ritual. dan setelah itu ada Zaman Sejarah. dimulai sejak zaman La Galigo, yang menceritakan tentang adanya kerajaan-kerajaan tua atau periode sejarah kuno pada abad ke-13 hingga abad ke-15.

                       Setelah berada di ruangan Lintas Peradaban, ruangan selanjutnya adalah Ruang Budaya pedalaman perkampungan, dimana di ruangan ini terdapat macam-macam yang membuktikan kayanya budaya sulawesi selatan seperti miniatur rumah adat, alat musik tradisional, pakaian adat dan lain-lain.

DSC00958 DSC00963 DSC00970

           Lalu setelah itu ada Ruang budaya pedalaman Agraris, yang lebih menampilkan peralatan pertanian masyarakat bugis-makassar. Lalu kita akan turun ke lantai dasar lagi ke ruangan Budaya pesisir. di Ruangan ini menampilkan alat-alat yang dimiliki oleh masyarakat pesisir. Karena masyarakat pesisir berprofesi sebagai nelayan, maka di ruangan ini kita akan dimanjakan dengan replika perahu, kapal phinisi dan lain-lain.

               Yang terakhir adalah ruang pertumbuhan dan Perkembangan kota. Menampilkan sejarah perkembangan beberapa kota di Sulawesi selatan seperti Makassar, Pare-pare, Palopo, dan Watampone. kendaraan tradisional perkotaan seperti Bendi (delman) dan sepeda Ontel juga ditampilkan di ruangan ini.

              DSC00984

            Setelah saya Puas melihat bukti sejarah yang ada di museum la Galigo, saya beralih ke sebuah bangunan yang sedikit lebih kecil dibanding bangunan lain di area Benteng. Ada sebuah papan penunjuk di dekatnya. Papan penunjuk itu bertuliskan “Ruang Tahanan P. Dipnegoro”. Rasanya nama itu tak asing di ingatan saya.

DSC00988 DSC00990

            Pangeran Diponegoro adalah seorang pahlawan Nasional yang lahir di Yogyakarta 11 November 1785. Pangeran Diponegoro ditahan 28 Maret 1830 melalui perundingan yang mendesak Pangeran Dipnegoro untuk mengehentikan perang. Namun Pangeran Diponegoro menolak. Saat itu Belanda menyiapkan pennyergapan dengan teliti dan akhirnya Pangeran Diponegoro tertangkap. Pangeran Diponegoro beberapa kali dipindahkan, dan yang terakhir adalah pengasingannya di Kota Makassar pada tahun 1834. Pangeran Diponegoro wafat pada tanggal 8 Januari 1855 dan dimakamkan di Makassar.

               Diruang tahanan Pangeran Dipoegoro ini disediakan sebuah kamar kosong beserta pelengkap hidup lainnya seperti peralatan shalat, alquran, dan tempat tidur. Saat saya berkunjung, pintu masuk ruangan terkunci, jadi saya hanya bisa melihat bagian dalam ruang tahanan dari jendela. Untungnya, jendela ruang tahanan terbuka, sehingga gambar bagian dalam ruangan bisa saya ambil.

                Setelah lelah berkeliling di area benteng yang masih sangat terawat saya kembali ke rumah.

Iklan

2 comments on “Makassar Rasa Belanda ala Fort Rotterdam

  1. Uwaaaa, aku akan ke tempat ini dua minggu lagi! Bahasan yang menarik!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: