JAWA TENGAH - INDONESIA

Candi Borobudur dan Hujan

          Ini kisah antara Candi Borobudur dan Hujan, Loh ??? kok hujan ?? ada apa dengan hujan ??, iya hujan, karena pada saat saya berkunjung ke Candi yang termasuk dalam 7 keajaiban dunia itu, sedang hujan, jadi ini kisah tentang Candi Borobudur dan Hujan. – Hujan hanya sekadar penambah nilai kedramatisan dari judul *owalahhh opo iki-.

            Saya berkunjung ke Candi Borobudur saat saya berkunjung ke pulau jawa tahun 2004 silam. Saat itu dari Jogjakarta kami sekeluarga menuju ke kabupaten magelang, Jawa Tengah dengan sebuah mobil rentalan, yaa selama di Jogjakarta, kami memang hanya menyewa mobil untuk keliling kota, untuk membuat perjalanan lebih simpel, karena kebanyakan anggota dari rombongan travelling ini adalah orang-orang berumur 40 Tahunan ke atas. Kecuali aku, adikku Ramzi, Icul dan Amal yang masih berumur dibawah 10 Tahun

            Siang kami berangkat dari Jogjakarta, sore kami tiba di Candi terbesar di Indonesia itu. Saat itu masih cerah, matahari masih menyinari Magelang waktu itu, hingga beberapa saat kemudian, gerimis akhirnya membasahi Candi itu, termasuk kami yang harus berlarian mencari tempat berteduh.

            Saat Gerimis mulai reda, barulah aku naik ke puncak candi. Melihat seluruh ornamen-ornamen yang terukir di Candi, Di Candi juga terdapat ratusan arca, banyak arca yang sudah kehilangan kepala *disitulah terkadang saya merasa sedih 😦

Candi Borobudur Wallpaper

            Candi Borobudur adalah sebuah Candi Buddha yang terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jarak candi ini sekitar 40 Km dari Kota Jogjakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut Budha Mahayana sekitar tahun 800-an masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Sebagaimana yang sudah saya sebutkan sebelumnya, Candi ini merupakan monument Buddha terbesar di dunia.

CNDI
Sumber Gambar : http://nanopertapan.blogspot.com/2011/09/foto-obyek-wisata-candi-borobudur.html

Candi Borobudur

          Monumen/Candi ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.

            Hmm, penjelasan di atas mungkin sudah cukup jelas tentang Candi Borobudur sebagai sebuah Monumen Budha terbesar di dunia. Sekarang saya mau melanjutkan kisah saya di Candi ini, heheh. Setelah saya naik ke puncak candi, berfoto-foto, hujan gerimis kembali membasahi bumi magelang sore itu. Wal hasil, para pengunjung berlarian meninggalkan candi mencari tempat berteduh, dan saat kami sampai di bawah, ternyata sudah banyak anak-anak yang menawarkan payung untuk para pengunjung candi, sukur lah.

            Magrib menjelang, kami akhirnya meninggalkan Candi Borobudur, menuju Jogjakarta. Dan Hujan akhirnya turun dengan deras.

Catatan : Foto candi bersumber berasal dari : http://nanopertapan.blogspot.com/2011/09/foto-obyek-wisata-candi-borobudur.html, karena dokumentasi pribadi saya hilang 😦

Iklan

0 comments on “Candi Borobudur dan Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: